Festival Literasi Tangsel dan Menjadi Bagian dari Buku Antologi Situ, Kota, dan Paradoks

Salah satu ajang perkenalan bagi para penulis dan pegiat literasi di kota Tangerang Selatan

Tanggal 04 – 05 November 2017, menjadi hari besar bagi para penulis dan penggiat literasi di kota Tangerang Selatan. Apa pasal? Selama 2 hari berturut-turut – sabtu dan minggu – terdapat serangkaian acara seru di Festival Literasi Tangsel.

“Konsep dari acara Festival Literasi Tangsel ini adalah tentang alam, manusia, dan produk kebudayaan yang dibuatnya saling keterkaitan seperti mata rantai. Acara Festival Literasi Tangsel juga dijadikan sebagai upaya untuk mempopulerkan budaya baca tulis di era yang serba modern saat ini. Jangan sampai, semakin majunya zaman malah membuat minat baca dan tulis juga akan berkurang.”

Processed with VSCO with  preset

Acara ini bertempat di Kandank Jurank Doank, Ciputat. Suasana asri, bersih, nyaman, dan adem bikin betah berada di sana. Pohon-pohon besar membuat rindang diiringi angin bertiup sepoi-sepoi. Apalagi banyak burung merpati yang bebas terbang kesana-kemari bikin pemandangan makin syahdu.

Banyak sekali agenda seru yang sayang sekali jika dilewatkan, seperti pembacaan puisi, performance kolaborasi, peluncuran dan diskusi buku antologi “Situ, Kota, dan Paradoks”, malam apresiasi, musikalisasi puisi, yang bawa anak-anak bisa ikut kelas gambar bercerita, workshop penerbitan buku, diskusi isu-isu literasi, sampai book talk yang membahas secara mendalam buku-buku keren.

Processed with VSCO with  preset

Sebelum acara akbar itu digelar, akun Instagram Festival Literasi Tangsel membuka Open Call Writer dan Volunteer, aku sebenarnya tertarik untuk jadi bagian Volunteer Festival Literasi Tangsel, tapi apalah daya kalau jadwal sabtu minggu aku udah penuh. Makanya aku coba untuk daftar dan mengirim karya dibagian Open Call Writer saja. Menulis sesuatu untuk kota yang selama ini ditinggali sepertinya tidak kalah menarik. Maka setelah membaca persyaratan untuk pengiriman karya bertema “Situ, Kota, dan Paradoks”, aku mulai menggodok ide, mencari inspirasi, dan mulai menulis.

Terpilihlah ide untuk membuat hikayat, kemudian mencari satu tempat yang bisa dijadikan latar belakang cerita. Situgintung, salah satu situ yang ada di kota Tangerang Selatan menjadi topik utama. Aku lebih familiar dengan Situgintung dibanding situ lainnya – meski belum pernah kesana juga. Haha.

Well, setelah menunggu sekitar 3 minggu lamanya pengumuman hasil karya yang lolos kuratorial, aku mendapat kabar baik! Hikayat Situgintung lolos masuk ke dalam buku antologi “Situ, Kota, dan Paradoks”. Senang bukan main dong karena bisa berkontribusi untuk kota tercinta. Walau tulisannya gak bagus-bagus banget, tapi tetap bersyukur bisa memberikan sesuatu bagi kota modern, relijius, dan cerdas ini. Apalagi buku antologi “Situ, Kota, dan Paradoks” menjadi buku antologiku yang ke-7.

IMG_20171105_084624

“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. – Pram”

Kalau pun tidak lolos kurasi, aku tetap akan hadir di acara itu. Karena semua tentang literasi selalu menarik perhatianku, apalagi saat tahu kota Tangsel turut serta dalam peningkatan minat baca dan literasi Indonesia.

Festival Literasi Tangsel dimulai pada hari sabtu, 4 November 2017 pukul 15.00, tetapi aku baru datang ketika acara peluncuran dan diskusi buku antologi “Situ, Kota, dan Paradoks” yang dibawakan oleh Esha Tegar Putra. Di sana ada beberapa stand pameran buku dari Penerbit Mizan, Indi Book Corner, dan lain sebagainya. Ada pula live mural, pembuatan grafiti yang bisa secara langsung disaksikan oleh para pengunjung.

Malam menjelang, makin ramai pengunjung yang datang. Karena malam minggu ini, acara seru lainnya akan dimulai. Panggung utama Kandank Jurank Doank didominasi oleh anak-anak muda yang antusias pada agenda malam apresiasi dan musikalisasi puisi.

2017-11-04 09.38.20 1

Yang paling bikin aku kagum adalah pembacaan puisi oleh salah satu pengunjung. Tapi jangan salah, meski bukan salah satu pengisi acara tapi performance dia keren banget! Beneran! Big applause for him! Kemudian dilanjutkan oleh pembacaan puisi oleh beberapa penyair lainnya yang punya karakter dan penjiwaan yang berbeda.

Sayangnya, saat acara makin seru, aku harus segera pulang. Lumayan lho perjalanan dari Jurang Mangu ke Serpong, jadi, aku harus berbesar hati untuk melewatkan berbagai performance lainnya di malam minggu ini.

But anyway, terima kasih sedalam-dalamnya buat semua panitia, komunitas, dan pemerintah kota Tangerang Selatan yang udah bikin event keren semacam ini. Semoga acara serupa kembali hadir dan lebih baik lagi dari sekarang. Good job, team! Salam Literasi!

 

Diterbitkan oleh

Siti Yulianingsih

Saat bermimpi, kita tidak pernah tahu apakah mimpi tersebut hanya akan jadi sejarah atau langkah awal untuk mengepakkan sayap lebih lebar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s