Posesif: Aku Berikan Segalanya, Kamu Milikku Selamanya

I’m come back! Setelah dua bulan gak nulis apa-apa selain jualan, aku mau bahas film yang sarat pesan moral buat anak muda, nih. Dibintangi oleh Putri Marino dan Adipati Dolken. Filmnya sih udah tayang dari tahun 2017 cuma baru sempet nonton aja. Haha. Bukan sok bijak, tapi berdasarkan pengalaman patah hati dan putus cinta yang bisa dibilang lumayan sering, meski gak pernah nemuin pasangan yang posesif – atau mungkin posesifnya masih dalam tahap wajar, sepertinya aku perlu share ini.

Sebelumnya aku pernah bahas tentang kekerasan dalam hubungan. Dan posesif ini menjadi pemicu tindakan tersebut. Usia yang masih belia dan belum bisa mengontrol emosi membuat hubungan yang awalnya manis bisa saja berujung tragis. Yuk, simak apa aja pesan yang bisa diambil dari film Posesif sebagai tameng supaya terhindar dari abusive relationship berikut ini.

1. Perkembangan karakter anak dimulai dari keluarga, jadi sebagai orang tua sebaiknya menanamkan sikap saling menghargai dan menjauhi sikap dominasi

Film-Posesif
via radarpekalongan.co.id

Yudhis dan Lala, adalah dua orang remaja yang sama dengan anak seusianya. Anak SMA berusia tujuh belas tahun dan lagi dalam proses menemukan jati diri. Keduanya punya masalah internal keluarga. Lala tinggal berdua dengan Ayahnya yang berprofesi sebagai pelatih atlet loncat indah, ingin anaknya bisa lebih hebat seperti Ibunya Lala yang sudah meninggal. Lala terus didorong untuk jadi atlet sementara ia tidak tahu apakah anaknya mau melakukan itu dengan tulus atau hanya untuk memenuhi tuntutan orangtua.

Kemudian Yudhis. Berbalik dengan keadaan rumah Lala, Yudhis tinggal berdua bersama Ibunya di rumah yang lumayan besar. Sejak kecil ia ditinggal pergi oleh Ayahnya. Hubungan antara Ibu dan anak ini awalnya nampak biasa saja Tapi Yudhis kerap menerima ancaman dari Ibunya jika tidak mau menuruti apa yang ia katakan.

Hal ini berlaku pula pada Lala. Yudhis meniru perilaku Ibunya yang posesif, yang egois, berpikir bahwa cuma dialah yang bisa membahagiakan Lala. Gak ada orang lain, bahkan orang tuanya sendiri. Di sini pentingnya peran orangtua menanamkan karakter saling menghargai, bukan memaksakan kehendak.

2. Sebelum memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan, lebih baik kenali lebih dekat siapa orang tersebut

posesif-muterfilm
via muterfilm.id

Memang sih kita gak bisa sepenuhnya mengendalikan perasaan. Apalagi kalau udah terlanjur nyaman. Sama seperti Yudhis dan Lala ini. Mereka berdua sebetulnya belum lama kenal. Yudhis adalah siswa pindahan, dan Lala lumayan berprestasi di sekolahnya. Atas beberapa kejadian akhirnya mereka kenalan, jalan bareng, dan jadian. Proses pedekate itu gak lama sampai mereka memutuskan untuk pacaran.

So, buat kamu yang lagi deket sama seseorang, alangkah lebih baik untuk mengenal dia lebih dekat lagi tentang kepribadian dia, pekerjaan, hobi, atau cerita-cerita sedikit tentang keluarga juga boleh. Untuk memastikan bahwa ‘dia adalah orang baik-baik’ butuh waktu yang gak sebentar dan kita gak bisa menilai dari luarnya aja.

Lama atau tidaknya proses pedekate gak serta merta bikin hubungan jadi langgeng atau engga tapi hal ini bisa membantu kamu untuk mengetahui lebih jauh tentang orang yang akan jadi pasanganmu kelak. Mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?

3. Jangan takut untuk mengadu dan pergi dari orang tersebut

film_posesif_adipati_dolken
via teen.co.id

Cinta itu buta. Hal ini juga berlaku pada Yudhis dan Lala. Hubungan mereka berjalan selayaknya hubungan anak muda yang lain. Penuh kejutan manis; ketika Lala ulang tahun, Yudhis datang ke kamarnya dan memberikan kue serta kalung dengan liontin penguin. Pulang sekolah selalu bareng atau gak langsung pulang karena ngedate dulu, ditemenin latihan loncat indah, dijaga dari orang-orang yang mengganggu; ketika Lala ke supermarket terus ada yang godain, Yudhis dengan marah menghajar orang asing itu.

Punya pasangan yang selalu ada dan melindungi adalah hal yang membahagiakan buat cewek. Tapi cara yang Yudhis lakukan keliru. Boleh lah dia selalu menjaga Lala, memberikan segalanya buat Lala, tapi bukan berarti kebebasan Lala untuk berteman atau mengambil keputusan itu hilang.

Hal ini terjadi saat Lala gak mau kuliah bareng di Bandung. Yudhis kekeuh supaya Lala ikut pergi ke sana karena Yudhis akan kuliah di ITB, Lala disarankan untuk kuliah di Unpad supaya gak jauhan. Lala menolak dia mau kuliah di UI, Yudhis marah dan mencekik Lala. Kekerasan ini terus terjadi tiap kali Lala menolak apa yang dikatakan Yudhis.

In my opinion, padahal ada solusi lain yang gak ada salahnya untuk dicoba, yaitu bicarakan baik-baik tentang masa depan, cita-cita yang gak bisa disama ratakan, dan kenapa mereka gak LDR aja? Jakarta – Bandung kan gak terlalu jauh.

Lala sudah terjebak dalam abusive relationship. Dia mendapat kekerasan fisik, verbal, mencoba untuk menjauh tapi gak bisa. Kalau kamu dalam posisi ini jangan pernah takut untuk bercerita ke orang terdekat, seperti sahabat atau orangtua, jangan dipendam sendirian. Dan jangan ragu untuk pergi dari orang tersebut. Percayalah hidup kamu akan lebih baik tanpa dirinya.

4. Dekat sebagai pasangan bukan berarti kita gak berhati-hati sama orang tersebut

1509042029-Film-Posesif-4-700x395
via duniaku.net

Sebuah hubungan akan terjalin saat komunikasi berjalan, saling percaya, dan berkomitmen. Menaruh harapan dan kepercayaan sama pacar sendiri sih sah-sah aja, tapi kamu juga punya ruang privasi yang gak bisa dimasuki gitu aja. Terbuka itu penting tapi sekiranya ada hal yang pasangan gak perlu tau, ya gak apa-apa gak perlu cerita.

Seperti halnya ketika Lala hangout sama temen-temennya, yang notabebe mereka lah yang lebih dulu kenal Lala. Tapi saking posesifnya Yudhis, Lala sulit buat jalan bareng mereka. Apalagi salah satu sahabatnya itu laki-laki, Yudhis curiga banget Lala ada apa-apa sama Rion. Bahkan Yudhis tega menabrak Rion sampai patah tulang lengan kirinya karena ia cemburu berat.

Serem banget kan kalau udah sampai kayak gitu? Nah, gak ada salahnya untuk aware, lebih hati-hati sama hubungan kamu yang sekiranya kamu merasa ada yang aneh sama pasangan. Penting banget buat menyadari ada hal yang berbeda dari pasangan. Kalau udah kayak gini, namanya bukan lagi cinta tapi menguasai.

Ending, Yudhis sadar bahwa dirinya bukanlah pasangan yang dapat melindungi Lala, namun lebih sering melukainya. Tiap Lala berada didekatnya, Yudhis selalu ingin menguasai untuk dirinya sendiri. Gak boleh ada orang lain, dan menurutnya gak ada orang lain yang bisa mengerti Lala selain Yudhis. Mengontrol emosi sendiri saja Yudhis sering kewalahan, bagaimana bisa ia menjaga Lala?

Buat kamu yang belum tahu apa itu abusive relationship, yuk, sadari dan lebih melek tentang bagaimana dan apa sih kekerasan dalam hubungan itu. Jangan pernah takut untuk bilang enggak. Gemes banget akutu kalau ngeliat hal kayak gini. So, kita bisa sama-sama belajar dari kisah Yudhis dan Lala, posesif udah gak wajar kalau pasangan mulai main fisik.

Diterbitkan oleh

Siti Yulianingsih

Saat bermimpi, kita tidak pernah tahu apakah mimpi tersebut hanya akan jadi sejarah atau langkah awal untuk mengepakkan sayap lebih lebar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s