Buat yang Lagi Berjuang Kuliah Sambil Kerja, Ini 6 Pengalamanku yang Bisa Kamu Ambil

Meyakinkan diri untuk kembali meneruskan pendidikan bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi soal biaya yang nantinya akan ditanggung sendiri. Banyak pertimbangan yang dilakukan hingga akhirnya keputusan untuk melanjutkan S1 akhirnya dipilih. Fyi, aku sudah lulus D3 tahun 2014 lalu, kemudian diterima bekerja di sebuah perusahaan industri makanan cokelat di kawasan BSD, Serpong.

As you know, namanya juga baru lulus kuliah terus langsung kerja, pastinya ingin punya sebuah kenang-kenangan dong hasil kerja keras selama ini. Gak pikir panjang lagi, aku memutuskan untuk ngredit motor (wkwk bahasanya ngredit coy). Ya intinya aku butuh kendaraan atas nama pribadi untuk memudahkan perjalanan ke kantor.

At least 1,5 tahun kemudian cicilan motor tersebut lunas, aku pikir kehidupan menuju kedewasaanku akan baik-baik saja. Aku punya pacar tapi bikin sakit hati melulu, punya gebetan tapi PHP gak ada ujungnya. Alhasil, daripada aku tertatih merawat luka dihati sendirian, akan lebih baik waktu yang ada dan berharga ini aku gunakan untuk menuntut ilmu. Waktu itu tujuannya cuma satu, gak mau galau gara-gara cinta jadi lebih baik belajar aja. Okesip!

View this post on Instagram

Semoga lulus tepat waktu aamiin 😇😇

A post shared by Siti Yulianingsih (@st.yulians) on

Walau pun, jurusan kuliah ini sebenarnya setengah hati mau gak mau diambil karena jangka waktu pendidikannya maksimal hanya 2 tahun. Sedangkan kalau mengambil jurusan yang sesuai keinginan harus 4 tahun. Hitung-hitungan umur dan cita-cita menikah kala itu, akhirnya aku rela tertatih belajar akuntansi lagi ketimbang belajar sastra. Tapi bukan berarti impian itu sirna.

Baca juga: [ Malas Kuliah? Ingat 7 Hal Ini Pasti Semangatmu On Lagi!

Pendaftaran kuliah aku lakukan sendiri, and you know what? Gebetan PHP itu malah daftar kuliah di kampus yang sama juga saudara-saudara. Tau gak sih kalau akutu menghindari kamoh? *gigit tisu*

Jadi, perjuanganku melupakan kasih tak sampai itu perlu energi ekstra. Selain belajar akuntansi yang super mumet dan sebenarnya gak terlalu aku sukai, ditambah lagi proses menuju kelulusan yang harus dilalui bersamanya, perjuanganku terasa semakin berat.

But you have to know that gak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Termasuk pengalaman yang bisa diambil selama 2 tahun menempuh pendidikan S1. Yuk disimak~

1. Niat adalah segalanya

Tanpa niat, gak akan ada semangat untuk belajar lagi. Dulu gak kepikiran tuh untuk melanjutkan ke S1. Apalagi membayangkan suasana sidang skripsi. Uh, aku udah lemas duluan takut gak bisa jawab pertanyaan penguji. Makanya penting banget untuk menguatkan niat di awal masuk kuliah. Karena lumayan banyak mata kuliah serta SKS yang harus diambil. Belum lagi saat harus kuliah malam sepulang kerja. Siapa sih yang mau mikir lagi setelah capek pulang kerja?

2. Jumlah teman tidak mempengaruhi semangat belajar

pexels-photo-14543601
via pexels

It’s pretty real, dude. Kuliah sambil kerja udah gak lagi mikirin berapa banyak teman yang harus dimiliki. Percaya gak kalau temanku di kampus bisa dihitung pake jari saking sedikitnya? Terkadang sedih sih, mau makan di kantin aja sering banget sendirian huhu. Abang gak mau gitu nemenin adek? Makanya di sini kita dituntut untuk bisa bergaul dengan banyak orang. Tapi teman yang benar-benar dekat, mungkin aku cuma punya 5 orang. Berbeda sekali dengan saat kuliah D3. Terlebih lagi kalau lanjutan kan berpindah-pindah kelas melulu. Dalam satu semester bisa ketemu dengan beberapa semester lain tergantung mata kuliah yang diambil.

3. That’s okay to be sok kenal sok deket

Saat jumlah teman bisa dihitung pakai jari, maka jurus terampuh adalah sok kenal sok deket dengan orang-orang yang kebetulan satu kelas denganmu dalam satu mata kuliah. Karena tidak setiap hari datang ke kampus, terkadang informasi mengenai perkuliahan bisa telat sampe di kita. Jadi solusinya adalah minta nomer ponsel teman yang bisa memberikan informasi terupdate tentang tugas kuliah, jadwal dosen, sampai jadwal ujian. Gak masalah sama sekali kok, untuk sok kenal sok dekat agar supaya perkuliahan tetap lancar dan gak ketinggalan informasi penting kampus.

4. Please be patient saat sudah sampai kampus ternyata kelas kosong

Rasanya perih diujung hati saat sudah jauh-jauh, panas-panas, udah semangat 45, tiba-tiba pas sampe kampus ternyata kelas kosong alias dosen yang bersangkutan izin. Sering banget aku membantin, “Bapak gak tau apa perjuangan saya melawan rasa malas ini.” Tapi apa mau dikata kalau memang dosen tersebut punya keperluan pribadi yang membuatnya harus izin mengajar. Gak bisa disalahin juga kan? Yang paling penting harus sabar dan ambil hikmahnya aja, kamu jadi bisa ngayab kan saat gak ada dosen? Muehehehe.

5. Sering berkunjung ke perpustakaan

Honestly, aku gak pernah beli buku penunjang mata kuliah. Kalau disuruh pun, aku pasti meminjamnya di perpustakaan. Jadi, jangan malas buat datang ke perpustakaan ya. Apalagi masa belajar yang gak lama, hanya 2 tahun, membuatmu harus mulai membuka-buka contoh skripsi tahun lalu. Ini sih biar kamu gak terlalu kaget nantinya. Sebab persiapan untuk membuat skripsi itu panjang dan lumayan ribet ngurus administrasinya. Dengan mulai sedikit-sedikit mempelajari skripsi tahun lalu, kamu jadi punya gambaran harus menulis apa dan bagaimana cara penulisan skripsi yang benar.

6. Hemat is a must karena biaya kuliah gak sedikit

pexels-photo-908292
via pexels

Menyangkut soal biaya, di kampusku pembayaran per semesternya diperbolehkan per bulan. Ini memudahkan dan meringankan juga sih. Soalnya kalau langsung per semester bisa sampai Rp 6juta, haduh rasanya berat banget buat karyawan swasta sepertiku. Apalagi dengan gaji yang serba ‘cukup’ ini. Mau jalan-jalan cukup, mau beli baju cukup, bayar arisan cukup muehehehe. Pokoknya pengeluaran harus lebih sedikit dari pendapatan dan tetap masih bisa nabung walau gak besar. Itu penting! 

Gimana masih semangat dong buat kuliah sambil kerja? Tetap dapet uang bulanan karena kerja, tetap dapet ilmu baru setiap harinya dari kuliah, ngisi waktu dengan kegiatan positif dan berguna buat masa depan. Geist!

Diterbitkan oleh

Siti Yulianingsih

Saat bermimpi, kita tidak pernah tahu apakah mimpi tersebut hanya akan jadi sejarah atau langkah awal untuk mengepakkan sayap lebih lebar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s